Menurut BlockBeats, pada 15 Juli, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan peluncuran “Operasi Nasser 2”, dengan mengklaim bahwa Amerika Serikat telah memasuki keadaan perang yang bersifat formal. Iran mengatakan pihaknya menyerang target-target militer AS di Bahrain dan Yordania, menghancurkan radar Patriot, sistem pengendali udara angkatan laut, serta sistem radar peringatan C-RAM, dan menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Iran juga melaporkan adanya ledakan di pangkalan militer AS di Kuwait dan mengklaim telah menghancurkan dua kapal.
Pihak AS menyatakan telah menyelesaikan satu putaran baru serangan militer terhadap Iran, dengan sekitar 50.000 pasukan Amerika dikerahkan di Timur Tengah. Terkait Selat Hormuz, militer Iran menyebut jalur tersebut tidak akan dibuka kembali selama operasi militer AS masih berlanjut, dan Garda Revolusi menyatakan bahwa akses yang diperbarui akan tetap ditangguhkan selama tindakan Amerika terus berlanjut. Menteri Energi AS mengonfirmasi bahwa pemerintahan telah meninggalkan pertimbangan sebelumnya untuk menerapkan biaya transit 20% di selat tersebut.