Analis Hana Securities Lee Kyung-soo merilis laporan pada tanggal 22 dengan membandingkan kondisi pasar KOSPI saat ini dengan peristiwa-peristiwa shock historis, serta mengidentifikasi pola pembelian investor asing sebagai variabel kunci bagi potensi rebound. KOSPI turun sekitar 25% dari puncaknya, 9.052 pada tanggal 19 bulan sebelumnya, menjadi level 6.800. Analisis tersebut menyatakan fase saat ini lebih mirip dengan periode pemulihan setelah shock China 2004 dan shock Dubai 2009, bukan dengan runtuhnya gelembung IT 2002, berdasarkan aktivitas pembelian investor asing yang berlanjut. Lee menyebutkan bahwa memantau stabilitas kurs won-dolar bersamaan dengan arus investor asing merupakan strategi yang tepat untuk jangka pendek.
Hana Securities Membandingkan Penurunan Saham KOSPI dengan Empat Shock Pasar Historis
Hana Securities mengidentifikasi empat kasus historis ketika KOSPI naik lebih dari 20% pada tahun sebelumnya sebelum turun 25% dari puncaknya: koreksi pertama dan kedua gelembung IT 2002, shock China 2004, serta shock Dubai 2009. Pergerakan pasar setelahnya berbeda-beda, tergantung perilaku investor asing. Satu tahun setelah mencapai titik penurunan 25%, imbal hasil KOSPI selama koreksi pertama dan kedua pada gelembung IT masing-masing sebesar -24,4% dan -13,0%. Sebaliknya, imbal hasil setelah shock China dan shock Dubai masing-masing sebesar 16,5% dan 26,6%.
Investor Asing Menunjukkan Pola Pembelian yang Berbeda dari Periode Gelembung IT
Selama periode gelembung IT, investor asing terus menjual meski harga saham turun, sehingga memperburuk penurunan. Pada periode shock China dan shock Dubai, investor asing membeli saham untuk tujuan rebalancing sementara investor individu menjual kepemilikan setelah harga pulih ke level pembelian mereka, yang memicu pemulihan indeks. Lee menyatakan bahwa kelanjutan aktivitas pembelian investor asing belakangan ini menjadi bukti utama bahwa fase saat ini lebih dekat dengan kasus shock China dan shock Dubai ketimbang gelembung IT. Lee menjelaskan bahwa jika pembelian oleh investor asing terus berlanjut, investor dapat mempertimbangkan strategi bottom-fishing dengan perkiraan imbal hasil 15–25% dalam satu tahun ke depan.
Kurs Won-Dolar dan Tren Perdagangan Margin Menandakan Stabilnya Pasar
Lee menekankan bahwa menilai keberlanjutan pembelian investor asing perlu memantau stabilitas kurs won-dolar, karena volatilitas mata uang yang kembali meningkat dapat mengubah arus modal asing. Faktor volatilitas pasar menunjukkan tanda-tanda mereda. Saldo kredit dan saldo pinjaman saham bergeser ke arah yang meningkat pada tanggal 21, yang menandakan likuidasi paksa telah berakhir. Sejak pertengahan bulan, jumlah penciptaan bersih untuk Samsung Electronics (005930) dan ETF leveraged satu saham SK Hynix (000660) terus menurun. Berkurangnya arus masuk ke ETF leveraged menurunkan tekanan tracking trade yang dihasilkan selama operasi dana.
Prakiraan Laba Big Tech AS Terus Meningkat
Analisis tersebut menolak kekhawatiran bahwa permintaan semikonduktor telah mencapai puncaknya. Prakiraan laba dan belanja modal (CAPEX) untuk perusahaan big tech AS meningkat seiring untuk tahun ini dan tahun depan, sementara prospek laba perusahaan perangkat lunak terus membaik. Laporan menyimpulkan bahwa terlalu dini untuk menganggap investasi artificial intelligence (AI) dan permintaan semikonduktor telah mencapai puncaknya.
FAQ
Peristiwa historis apa yang Hana Securities bandingkan dengan kondisi KOSPI saat ini?
Hana Securities membandingkan penurunan KOSPI saat ini dengan empat kasus historis: koreksi pertama dan kedua gelembung IT 2002, shock China 2004, serta shock Dubai 2009. Analisis menunjukkan bahwa fase saat ini lebih mirip dengan periode pemulihan setelah shock China dan shock Dubai berdasarkan pola pembelian investor asing.
Berapa imbal hasil KOSPI satu tahun setelah penurunan 25% sebelumnya?
Satu tahun setelah mencapai titik penurunan 25%, imbal hasil KOSPI selama koreksi pertama dan kedua pada gelembung IT masing-masing sebesar -24,4% dan -13,0%. Imbal hasil setelah shock China dan shock Dubai masing-masing sebesar 16,5% dan 26,6%, dengan perbedaan yang dikaitkan pada perilaku investor asing selama setiap periode.