Mengutip penelitian dari Resilient Research, CNBC menyebut bahwa koefisien korelasi 60 hari antara indeks KOSPI Korea Selatan dan Nasdaq-100 AS mencapai sekitar 0,50 pada 27 Juli, menandai level tertinggi sejak 2021. Lonjakan ini mencerminkan keterhubungan investasi AI yang makin menguat, karena Samsung Electronics dan SK Hynix—yang bersama-sama menyumbang lebih dari setengah kapitalisasi pasar KOSPI—telah menjadi pemasok inti dalam rantai pasokan DRAM server AI. Dengan demikian, belanja AI big tech AS berdampak pada kedua pasar secara bersamaan.
Menurut Futurum Group, porsi permintaan pusat data terhadap konsumsi DRAM global meningkat dari sekitar 40% pada 2025 menjadi lebih dari 50% pada 2026. Sinkronisasi yang lebih tinggi mengurangi manfaat diversifikasi yang secara historis didapat investor saat memegang saham Korea dan AS. Para ahli memperingatkan bahwa jika belanja modal big tech AS melambat, KOSPI bisa mengalami penurunan yang lebih tajam dibanding pasar lain. Harian Nikkei Jepang melaporkan pada 28 Juli bahwa meningkatnya perdagangan leveraged single-stock ETF yang melacak Samsung dan SK Hynix telah memperbesar volatilitas saham semikonduktor Jepang, termasuk Kioxia.