Korea Selatan Mengusulkan Kerja Sama AI Multilateral dengan Negara-Negara Berkekuatan Menengah

NVDA-1,58%
AVGO-0,98%
Key Takeaways
  • Kim Yong-beom mengusulkan kerja sama AI multilateral dengan negara berdaya menengah dan negara berkembang pada 23 melalui unggahan di Facebook.
  • Pasar domestik Korea Selatan yang berpenduduk 50 juta membuat persaingan AI yang mandiri dengan AS dan China sulit dilakukan.
  • Presiden Lee Jae-myung berencana mengadakan pertemuan dengan OpenAI, NVIDIA, Anthropic, dan Broadcom di San Francisco terkait kerja sama AI.

Kim Yong-beom, Kepala Kebijakan Presiden di Blue House, mengusulkan strategi kerja sama multilateral dengan negara-negara middle-power sebagai pendekatan Korea Selatan dalam pengembangan artificial intelligence (AI) di tengah persaingan hegemoni AI antara AS dan Tiongkok. Kim memposting usulan tersebut di Facebook-nya pada tanggal 23, menguraikan visinya bahwa Korea membangun model AI operasional untuk layanan publik seperti layanan kesehatan, pendidikan, dan administrasi, kemudian membagikan sistem-sistem tersebut ke banyak negara. Strategi ini menanggapi tantangan Korea untuk bersaing secara independen melawan AS dan Tiongkok, mengingat pasar domestiknya hanya 50 juta penduduk dibandingkan pasar besar serta kemampuan akumulasi data dari dua negara adidaya AI tersebut.

Kim Yong-beom Mengusulkan Model Kerja Sama AI Multilateral

Kim Yong-beom menerbitkan unggahan panjang berjudul 'Era AI, Bangsa Menghubungkan Dunia' di Facebook-nya pada tanggal 23. Ia menggambarkan persaingan AI global saat ini sebagai perebutan hegemoni antara AS dan Tiongkok, sekaligus menilai bahwa Korea menghadapi kesulitan praktis untuk bersaing dengan cara yang sama. "Pasar domestik Korea hanya 50 juta orang," kata Kim, seraya menambahkan bahwa "sulit bagi Korea untuk bersaing pada skala independen ketika AS dan Tiongkok mengakumulasi data dan modal berdasarkan pasar domestik mereka yang sangat besar." Ia menekankan perlunya mengubah strategi dari "cara menang sendiri" menjadi "cara menciptakan kerangka untuk bergerak bersama."

Alternatif yang Kim ajukan melibatkan penciptaan ekosistem AI baru bersama negara-negara middle-power yang memiliki kekhawatiran serupa, alih-alih mengejar keseimbangan diplomatik antara AS dan Tiongkok. Ia menyebut bahwa negara-negara termasuk Inggris, Jepang, dan Kanada juga kesulitan memperoleh keunggulan kompetitif dalam AI hanya dengan mengandalkan pasar domestik mereka, serta menghadapi tantangan untuk menghindari ketergantungan teknologi saat bergantung pada perusahaan big tech global. Kim menjelaskan bahwa diperlukan model kerja sama yang melibatkan negara-negara tersebut.

Sistem AI Layanan Publik Ditujukan untuk Negara Berkembang dan Middle-Power

Kim mengusulkan bahwa Korea bisa mengambil peran baru dalam ekosistem AI global dengan terlebih dahulu membangun model pemanfaatan AI di sektor layanan publik, termasuk layanan kesehatan, pendidikan, dan administrasi, lalu mengembangkannya bersama dengan negara lain termasuk negara berkembang. "Koneksi yang harus diciptakan Korea bukan persimpangan geografis, melainkan metode operasional untuk sistem," tegas Kim, seraya menyatakan bahwa Korea "harus menjadi negara yang menciptakan metode operasional, bukan pusat."

Ia menilai bahwa meskipun pembahasan AI global berfokus pada regulasi dan keselamatan, yang sebenarnya dibutuhkan banyak negara adalah model praktis yang menggunakan AI untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan, ketimpangan pendidikan, dan prosedur administrasi yang kompleks. Kim menjelaskan bahwa jika Korea menerapkan AI layanan publik lebih dulu dan membuatnya tersedia agar bisa dimanfaatkan oleh banyak negara, Korea dapat menjadi standar baru yang secara sukarela diadopsi komunitas internasional.

Kim menetapkan negara-negara berkembang dan middle-power, bukan AS atau Tiongkok, sebagai sasaran kerja sama. Dengan menyebut contoh seperti Mongolia, Uzbekistan, dan Vietnam, ia mengajukan model pengembangan bersama di mana Korea mendukung pembangunan sistem AI yang disesuaikan dengan bahasa lokal dan sistem administrasi setempat, sambil menyerahkan kedaulatan data kepada masing-masing negara. Logikanya adalah Korea mengamankan ragam bahasa dan data publik, sementara negara mitra membangun ekosistem AI yang tidak bergantung pada perusahaan big tech tertentu, sehingga tercipta struktur yang saling menguntungkan.

Kim memperkirakan pusat data AI tingkat gigawatt yang saat ini sedang dibangun di dalam negeri akan berfungsi sebagai infrastruktur inti untuk mendukung kerja sama internasional ini. Ia menyatakan bahwa bila pusat data domestik menjalankan peran sebagai hub komputasi Asia, negara-negara berkembang dapat memanfaatkan layanan AI tanpa harus membangun infrastruktur sendiri dengan biaya besar, sementara Korea mendapatkan permintaan komputasi yang stabil dalam siklus yang saling menguatkan.

Kunjungan Presiden untuk Menghubungkan Teknologi AI dan Kerja Sama Rantai Pasok

Pengamat di dalam maupun luar lingkaran politik menafsirkan bahwa visi ini selaras dengan jadwal perjalanan kunjungan mendatang. Presiden Lee Jae-myung berencana bertemu dengan para CEO dari OpenAI, NVIDIA, Anthropic, dan Broadcom di San Francisco untuk membahas teknologi AI dan kerja sama investasi, lalu berkunjung ke Brasil, Chili, dan Argentina secara berurutan guna memperluas kerja sama mineral penting dan rantai pasok. Muncul penilaian bahwa Kim lebih dulu memaparkan konsep "negara penghubung" sebagai arah perjalanan ini, yang menggabungkan teknologi AI, modal, serta rantai pasok mineral penting menjadi satu strategi.

Seorang pejabat Blue House menyatakan bahwa "persaingan AI kini bukan lagi sekadar persaingan teknologi, tetapi persaingan yang memadukan rantai pasok, modal, dan diplomasi," sambil menambahkan bahwa "kunjungan ini juga memiliki makna sebagai titik awal diplomasi AI baru yang menghubungkan teknologi, sumber daya, dan kerja sama middle-power."

FAQ

Strategi AI apa yang diusulkan Kim Yong-beom pada tanggal 23?

Kim Yong-beom mengusulkan strategi kerja sama multilateral di mana Korea Selatan membangun model AI operasional untuk layanan publik termasuk layanan kesehatan, pendidikan, dan administrasi, lalu membagikan sistem-sistem tersebut kepada negara middle-power dan negara berkembang, alih-alih bersaing secara independen melawan AS dan Tiongkok.

Mengapa Kim Yong-beom mengatakan Korea tidak bisa bersaing sendirian dalam AI?

Kim menyatakan bahwa pasar domestik Korea hanya 50 juta penduduk, sehingga sulit bersaing pada skala independen ketika AS dan Tiongkok mengakumulasi data dan modal berdasarkan pasar domestik mereka yang sangat besar. Ia menekankan perlunya beralih dari menang sendirian menjadi menciptakan kerangka untuk bergerak bersama dengan negara-negara yang memiliki kesamaan.

Negara mana saja yang diidentifikasi Kim Yong-beom sebagai sasaran kerja sama?

Kim mengidentifikasi negara-negara middle-power termasuk Inggris, Jepang, dan Kanada, serta negara-negara berkembang termasuk Mongolia, Uzbekistan, dan Vietnam sebagai sasaran kerja sama untuk membangun sistem AI bersama sambil tetap menjaga kedaulatan data masing-masing negara.

Penafian: Informasi di halaman ini mungkin berasal dari sumber pihak ketiga dan hanya untuk referensi. Ini tidak mewakili pandangan atau pendapat Gate dan bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau hukum. Perdagangan aset virtual melibatkan risiko tinggi. Mohon jangan hanya mengandalkan informasi di halaman ini saat membuat keputusan. Untuk detailnya, lihat Penafian.
Komentar
0/400
Tidak ada komentar