Menurut Bursa Efek Korea, lima saham pertahanan utama Korea Selatan—termasuk Hanwha Aerospace, Hyundai Rotem, Korea Aerospace Industries, Hanwha Systems, dan LIG Defense and Aerospace—naik rata-rata 14,9% year-to-date per 21 Juli, jauh tertinggal dibanding kenaikan KOSPI sebesar 55,26%. Dibandingkan puncak tertinggi mereka pada 2026, saham-saham tersebut mengalami penurunan tajam berkisar 33% hingga 67%.
Para analis mengaitkan pelemahan ini dengan tertundanya kontrak-kontrak baru di Timur Tengah, bukan dengan permintaan yang didorong konflik perang seperti yang semula diharapkan. Dengan konflik AS-Iran yang kini telah berlangsung lebih dari empat bulan, kekhawatiran terkait tekanan finansial negara-negara di Timur Tengah dan keterlambatan proyek telah mengalahkan harapan awal akan peningkatan belanja pertahanan. Analis DS Investment & Securities, Kang Tae-ho, mencatat bahwa kekhawatiran pasar terpusat pada keterlambatan pemesanan, dan kemenangan kontrak yang berkelanjutan menjadi kunci untuk kinerja jangka panjang. Namun, perusahaan sekuritas memperkirakan kontrak besar luar negeri yang diperkirakan pada paruh kedua 2026 dapat menghidupkan kembali momentum sektor.