Pada 4 Mei, operasi pengawalan militer AS di Selat Hormuz diperkirakan akan diluncurkan dalam beberapa jam sebagai bagian dari “Project Freedom” Presiden Trump untuk memulihkan pelayaran di Teluk Persia. Namun, industri pelayaran menyatakan kekhawatiran terkait kelayakan rencana tersebut, dengan alasan kurangnya rincian operasional mengenai pembersihan ranjau, dukungan pertahanan udara, dan mekanisme respons insiden.
Risiko keamanan regional meningkat, dengan 37 insiden maritim tercatat di wilayah tersebut sejak konflik dimulai, termasuk 24 serangan langsung yang dikonfirmasi. UK Maritime Trade Operations melaporkan sebuah tanker dekat Fujairah diserang oleh proyektil tak dikenal, sementara kapal-kapal kargo mengalami gangguan di dekat perairan Iran.