Menurut Business Insider, Neil Dutta, kepala ekonom di Renaissance Macro Research, memprediksi kemarin bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga secara mengejutkan pada pertemuan FOMC bulan ini. Dutta menyebut tekanan inflasi yang terus berlanjut, termasuk indeks harga konsumen Juni sebesar 3,5% year-over-year (jauh di atas target The Fed sebesar 2%), harga minyak yang meningkat, investasi AI yang bertambah, serta kebijakan tarif yang tinggi.
Brent menembus level $100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke 4,7%. Dutta berpendapat bahwa menaikkan suku bunga pada Juli, bukan September, akan memberi Ketua The Fed Kevin Warsh fleksibilitas kebijakan yang lebih besar, seraya mencatat bahwa sebagian besar anggota FOMC sudah memperkirakan kenaikan pada September.