Investor ritel Korea membeli lebih dari 613 juta dolar AS dalam SK Hynix American Depositary Receipts (ADR) di Bursa Efek New York sejak listing hingga tanggal 23, memicu kritik dari para pakar keuangan global. Owen Lamont, Senior Vice President di Acadian Asset Management, menggambarkan kesenjangan harga antara SK Hynix ADR dan saham domestiknya sebagai “tingkat kerusakan fungsi harga yang benar-benar gila” pada hari sebelumnya. Ia mengatakan bahwa investor Korea terlibat dalam “perilaku yang merusak diri sendiri” dengan membayar premi untuk saham ADR, padahal saham domestik tersedia dengan harga lebih rendah. Kritik ini muncul karena investor Korea net membeli 135,76 juta dolar AS dalam SK Hynix ADR selama periode satu minggu dari tanggal 17 hingga 23, menurut Korea Securities Depository. Lamont mencatat bahwa fenomena premi ADR seperti ini secara historis muncul selama periode gelembung pasar saham, termasuk gelembung dotcom dan gelembung COVID.
Investor Korea Net Beli 613,67 Juta Dolar AS dalam SK Hynix ADR hingga 23
Menurut portal informasi sekuritas Seibro milik Korea Securities Depository, SK Hynix ADR menjadi saham dengan net purchase terbesar kedua oleh investor domestik selama periode satu minggu dari tanggal 17 hingga 23. Volume net purchase investor ritel Korea selama periode ini mencapai 135,76 juta dolar AS (sekitar 200,2 miliar KRW). Total akumulatif net purchase sejak listing hingga hari sebelumnya (dari tanggal 10 hingga 23) berjumlah 613,67 juta dolar AS (sekitar 904,8 miliar KRW). Pada periode yang sama, investor individu net membeli 1,035 triliun KRW dalam saham domestik SK Hynix di pasar saham Korea, sehingga volume net purchase saham domestik dan ADR hampir setara.
Eksekutif Acadian Asset Management Mengkritik Premi ADR sebagai Pola Merusak Diri
Owen Lamont, Senior Vice President di Acadian Asset Management, menyatakan pada hari sebelumnya bahwa perbedaan harga antara saham domestik SK Hynix dan ADR merupakan “tingkat kerusakan fungsi harga yang benar-benar gila”. Lamont mengatakan, “Saya benar-benar tidak mengerti mengapa orang Korea membeli ADR, dan ini adalah pola perilaku yang merusak diri sendiri dari investor ritel Korea.” Ia menjelaskan, “Apakah harga ADR terlalu tinggi atau harga saham domestik terlalu rendah, itu belum pasti, tetapi yang pasti adalah bahwa di pasar yang berfungsi dengan baik, kedua harga itu seharusnya sama. Meskipun logika investor asing membeli ADR agak dapat dipahami, investor Korea yang membeli ADR sungguh tidak bisa dipahami.” Lamont mengkritik, “Orang Korea bisa dengan mudah membeli saham SK Hynix di pasar saham domestik, namun mereka membayar 149 dolar AS untuk saham senilai 100 dolar AS.”
Pencatatan ADR Meningkat Tajam Secara Historis Bertepatan dengan Periode Gelembung
Lamont menyatakan bahwa fenomena premi ADR sering diamati selama periode gelembung pasar saham. Ia menjelaskan, “Secara historis, setiap kali pasar saham AS menjadi terlalu mahal, perusahaan asing berlomba mencatatkan diri di AS melalui ADR dan metode lain.” Lamont menyoroti, “Ada penelitian yang menunjukkan bahwa ketika tingkat penerbitan saham perusahaan asing di AS menjadi tidak normal tinggi, imbal hasil saham AS berikutnya lebih rendah, dan lonjakan pencatatan ADR terlihat baik selama periode gelembung dotcom maupun gelembung COVID.”
FAQ
Berapa volume SK Hynix ADR yang dibeli investor Korea dari mulai listing hingga tanggal 23?
Menurut data Korea Securities Depository, investor ritel Korea net membeli 613,67 juta dolar AS (sekitar 904,8 miliar KRW) dalam SK Hynix ADR dari mulai listing hingga tanggal 23. Hanya selama periode satu minggu dari tanggal 17 hingga 23, net purchase mencapai 135,76 juta dolar AS (sekitar 200,2 miliar KRW).
Mengapa Owen Lamont mengkritik pembelian SK Hynix ADR oleh investor Korea?
Owen Lamont, Senior Vice President di Acadian Asset Management, menyatakan pada hari sebelumnya bahwa investor Korea melakukan “perilaku yang merusak diri sendiri” dengan membeli SK Hynix ADR pada harga premi ketika saham domestik tersedia dengan harga lebih rendah. Ia mengkritik bahwa orang Korea “membayar 149 dolar AS untuk saham senilai 100 dolar AS” dan menggambarkan kesenjangan harga itu sebagai “tingkat kerusakan fungsi harga yang benar-benar gila”.
Pola historis apa yang diidentifikasi Lamont terkait premi ADR?
Lamont menyatakan bahwa fenomena premi ADR sering diamati selama periode gelembung pasar saham. Ia menjelaskan bahwa secara historis, perusahaan asing berlomba mencatatkan diri di AS melalui ADR ketika pasar saham AS menjadi terlalu mahal, dan lonjakan pencatatan ADR terlihat baik selama periode gelembung dotcom maupun gelembung COVID.