Menurut analisis Signum Global Advisors pada 22 Juli, sebuah model kuantitatif memprediksi Trump mungkin mengubah kebijakan kerasnya terhadap Iran pada akhir Juli, dengan 26 Juli diidentifikasi sebagai waktu dengan probabilitas tertinggi. Model tersebut menetapkan 2,9 standar deviasi sebagai ambang rata-rata yang diperlukan untuk memicu pergeseran kebijakan, berdasarkan empat indikator utama: harga minyak Brent, imbal hasil Treasury AS 10 tahun, volume pengiriman di Selat Hormuz, dan indeks S&P 500.
Minyak Brent telah melonjak melewati $91 per barel di tengah ketegangan AS-Iran yang berkelanjutan, sementara harga bensin AS menembus $4 per galon untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juni. Gangguan pengiriman di Selat Hormuz, meningkatnya biaya militer, dan korban jiwa warga Amerika semakin memperkuat tekanan politik terhadap pemerintahan Trump.